"Jelek, Tikam Saja..."

Berawal dari makian seseorang yang tidak saya kenal di twitter. Ia memaki vokalis sebuah band besar yang pernah mencapai penjualan album sebanyak 1.000.000 copy dan RBT yang lumayan tinggi dan jadwal manggung yang cukup padat. Ia bilang musiknya nggak bermutu, nggak enak and they should be dismissed.



Siapa sih kita bisa menghakimi kalau musik itu jelek? Siapa sih kita harus sebenci itu sama orang yang juga sama-sama berkarya, bekerja and make a living? Not itu cuma ada Do, Re, Mi, Fa, So, La, Si, Do. Mau dimainkan seperti apa, saya rasa itu hak mereka. Mau menggunakan kunci B, kunci C, itupun suka-suka mereka. Mau main drumnya jungkir balikpun, it's their rights!



Soal musik, semua masalah selera. Kalau kita nggak suka, just leave them alone. Kenyataannya 1.000.000 orang di Indonesia membeli album mereka, kenyataannya they earnt a lot by making "bad" music. Kalau katanya musik mereka jelek.



No, it's not about the money. Tapi, bukannya kita harus berterimakasih ya sama band-band yang sekarang lagi laku-lakunya. Name it: Radja, ST12, D'Masiv, Kangen Band, Hijau Daun, Wali and whatsoever. Bukankah karena mereka juga industri ini tetap berjalan? Bukankah karena mereka juga jadi banyak muncul musisi-musisi lain dengan aliran musik berbeda yang membuat industri kita lebih semarak? Bukankah karena mereka juga kita jadi terpacu dengan kesuksesan yang bisa mereka raih tapi belum kita raih? Kalau mereka bisa, kenapa kita nggak?



Di dunia ini banyak sekali jenis aliran musik, kembali lagi ke selera tanpa harus menghakimi. Don't judge. You'll never know. Siapa tau orang yang sekarang kita maki-maki, kita hujat-hujat, malah bisa membantu kita. Anything could happen.



So, whoever it is, support your local music!

Comments

Asal tetap pegang kunci kreatif dan anti plagiat, jadi musik kita punya karakter sendiri. Sukses musik Indonesia!

Popular posts from this blog

Nyaman Villa: The Comfortable One

Nyaman. Itu Saja. Bukan Apa-Apa.

I’M GETTING HITCHED: HEN PARTY AT THE MALL!!!!