Apakah Aku Salah?
Pagi itu, dua cangkir kopi jadi saksi percakapan kita. Tidak ada buaian kata-kata, tidak ada janji, tidak ada pengharapan. Jiwaku berbicara dengan jiwamu. Kalau ada air mata keluar dari mataku, itu jiwaku yang merasakan sedih. Kalau ada senyum dari bibirku, itu jiwaku yang merasakan indah. Melihatmu bahagia, aku juga bahagia. Tapi, aku tau, kita tak akan pernah bersama. Sedikit waktuku bersamamu. Berulangkali kau katakan, "nikmati saja waktu yang ada." Mudah bagimu mengucapkan itu. Bahagiamu tidak hanya saat bersamaku. Tapi, saat ini, bahagiaku, hanya saat bersamamu.
Saat tak bersamamu, kucari bayanganmu, kupeluk rasanya hadirmu. Indah. Seperti sempurna. Tidak, aku tidak ingin menghamba untuk dicinta. Seperti itukah aku sekarang? Menghamba pada hatimu, yang bukan untukku? Apa itu benar, apa itu salah? Apa itu hitam, apa itu putih? Jika benar yang kurasa saat bersamamu, lalu apa yang salah?
63 hari, 18 jam, 24 menit, 10 detik, bukan waktu yang banyak untuk mengenalmu. Hanya warna kesukaanmu dan rokok yang kau hisap yang kutau. Ah, dan minuman yang kamu suka.. itu aku juga tau. Tapi, kebiasaan-kebiasaan kecilmu, membuat jiwaku merasakan sesuatu yang beda. Nyaman. Tak ada hal lain yang kucari saat tanganku menari di bawah tanganmu.
Aku tak ingin sakit. Aku tak mau menangis. Aku tak ingin menyakiti.
Aku ingin tersenyum. Aku ingin melihatmu tersenyum. Dengan atau tanpaku, tulus dari hati. Walaupun, senyumku diiringi sedikit rasa pedih di hati. Ada yang menangis kecil di sana.
Katakan apa yang kulakukan ini salah. Teriakkan padaku apa yang benar.
Ucapkan pada hatiku, aku tidak perlu rindu yang selalu datang luar biasa ini.
Bilang pada tubuhku, aku tidak perlu pelukan hangatmu. Tampar bibirku, saatku ingin menciummu. Bohongi aku. Bila ini semua salah.
Comments