Jokowi vs Prabowo: The Serendipity of Decisions
Saya
sebenarnya suka dengan dua sosok calon Presiden sekarang. Masing-masing dengan
kelebihan dan kekurangannya dalam segala hal termasuk berat badan.
Jokowi dan Prabowo buat saya seperti Path dan mig33. Path
kuat di kota-kota besar, mig33 kuat di kota-kota kedua, ketiga dan mungkin
keempat.
Bicara soal rakyat Indonesia, crowd kemarin yang datang ke
GBK untuk melihat orasi terakhir Jokowi sebelum pemilihan, mungkin hanya 1%
dari rakyat Indonesia. Lalu, bagaimana dengan 99-% rakyat Indonesia yang
lainnya?
Banyak sekali pendukung Jokowi yang suka Jokowi karena
beliau hobi nonton konser dan mendukung industri kreatif. Sayangnya, itu saja
tidak cukup. Saya ingat dulu semua golongan mahasiswa mendukung SBY seperti
apa. Lalu setelah beliau menjabat Presiden, semua berbalik mencaci. Ini saya
takutkan akan terjadi dengan Jokowi.
Hidup identik dengan perubahan, begitu juga dengan manusia.
Lidah tidak bertulang. Besok bisa bicara A, lusa bisa menjawab B.
Prabowo, dengan tubuhnya yang tegap dan cenderung besar,
punya sejarah yang kurang baik di tahun 1998, tapi manusia juga bisa berubah.
Belum tentu dengan Prabowo menjadi Presiden, dia akan mengulangi kesalahan yang
sama.
No guarantee. Siapapun Presidennya, tidak ada garansi kalau
beliau beliau akan menjalankan tugasnya dengan baik. Layaknya resolusi tahun
baru yang hanya bertahan 2-3 bulan pertama.
Siapapun yang kita pilih, please don't judge what other choose.
Black campaign terhadap Prabowo lebih mengerikan buat saya. Kok bisa pendukung
Jokowi yang katanya "smart & well-educated" ikut-ikutan
membuat black campaign. Lalu, di mana smartnya?
Biarkan Jokowi umroh untuk menenangkan dirinya. Biarkan Prabowo
sibuk memilih siapa ibu negara kita nanti.
Pertanyaannya, setelah memilih Presiden, apakah kita pribadi
akan membuat negri kita jadi lebih baik?
Comments